Thursday, June 18, 2009

Barat vs. Islam

18 juni 09


Islam adalah fenomena mengerikan bagi Barat. Sejarawan, Karen Armstrong, mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang tidak dipahami Barat sampai saat ini. Kesan Islam di Barat yang tercermin dari pemberitaan-pemberitaan media di sana berakar pada prasangka-prasangka yang tertanam sejak masa pra-Perang Salip. Prasangka-prasangka tersebut menghujam dalam benak orang Barat hingga saat ini sehingga pemahaman terhadap Islam sangat sulit dicapai bagi mereka. Celakanya, banyak massyarakat “Timur” yang sudah “modern” mengadopsi prasangka-prasangka tersebut sehingga menjadi kerangka berpikir untuk kemudian menilai Islam, agama mereka sendiri.

Edward Said, filsuf Kristen Amerika kelahiran Palestina, mengatakan:

“Para akademisi yang mengambil spesialisasi tentang keislaman pun pada umumnya memperlakukan agama ini dan berbagai kebudayaannya berdasarkan khayalan atau berdasarkan kerangka ideologis yang telah ditentukan yang syarat dengan kemarahan dan prasangka, bahkan kadang-kadang dengan muak. Karena inilah, pemahaman terhadap Islam sangat sulit dicapai.” (Said, “Covering Islam,” hal. 8)

Said menambahkan, Barat sebagai simbol modernitas mereduksi Islam menjadi karakteristik-karakteristik yang sama, walaupun penampilan Islam sendiri sering kontradiktif dan pengalamannya lebih kaya dibandingkan Barat. Itulah mengapa konflik saat ini lebih cenderung dinamakan konflik “Barat vs Islam” bukan “Kristen vs Islam,” karena “Barat lebih besar dan melebihi panggung Kristen, agama utamanya” (hal. 12). Islam kemudian dipandang sebagai symbol keprimitifan dan kemunduran yang masih saja berkutat dengan agama, tanpa menilik sisi keragaman budaya, bahasa dan kekayaan sejarahnya.

Oleh karena itu, istilah “Islam” menjadi terdengar sederhana dan mudah dirujuk bagi orang Barat dan pengikutnya di Timur (termasuk orang Islam sendiri), seperti halnya orang awam merujuk istilah “demokrasi” dan konsep “Trinitas” dalam Kristen. Dengan bantuan media, Islam direduksi menjadi “terorisme,” “kekerasan,” “anti-demokrasi,” ,”kediktatoran,” “anti-kesetaraan,” dan sebagainya sebagaimana Barat abad pertengahan memunculkan prasangka Islam sebagai “agama pedang.” Tidak mengherankan, mahasiswa-mahasiswa dan sarjana-sarjana Islam yang berpendidikan Barat saat ini akan merasa ketakutan dengan istilah “Islam” sendiri. Disatu sisi Islam adalah identitasnya, tapi disisi lain ia disangkal dengan dalih modernitas dan semangat pencerahan dan rasionalitas Barat.

Karakteristik-karakteristik dan prasangka-prasangka kuno tersebut mendapatkan momen untuk dimunculkan kembali pada tahun 1974, saat harga minyak di OPEC naik tajam (hingga lebih dari USD 100 per barrel pada kurs saat itu). Barat khawatir Islam yang “primitif" ini akan menguasai dunia dengan mempermainkan harga minyak. Kita ketahui sebagian besar cadangan minyak dunia ada di area sekitar Teluk Persia dan semuanya dikuasai negara Islam. Barat takut industrinya akan hancur karena ketergantungannya dengan minyak “Islam.”

Oleh karena itu, Barat terpaksa berusaha memasukkan “Islam” dalam kajian-kajian akademik di universitas-universitas di segala penjuru dunia Barat. Bukan untuk memahami Islam secara utuh, namun untuk mengantisipasi rivalitas dunia muslim dalam kancah dunia, dan untuk menghegemoni Dunia Islam dengan pengetahuan yang serba Barat, bahkan pengetahuan tentang Islam sendiri. Sehingga, Barat memiliki agen intelektual di Barat sendiri dan di Timur yang siap menerima dan menyebarkan karakteristik simplistik “Islam” yang secara tidak langsung memperlama hegemoni Barat sendiri.

Sehingga kesimpulannya, walaupaun prasangka-prasangka orang Barat Eropa terhadap Islam berawal pada masa-masa kejayaan Islam dan sebelum Perang Salip di abad 11, Dunia Islam secara politis diperhitungkan oleh Barat modern baru pada pertengahan tahun 70an abad 20. Masa ini, yang belum begitu lama, menandai munculnya kebijakan-kebijakan politik Barat (Amerika dan Eropa) terhadap Islam dan Dunia Islam.

Kajian-kajian Islam saat ini di Barat tentu sangat berguna bagi pemerintah Barat untuk membuat kebijakan politik terhadap Dunia Muslim, termasuk kebijakan untuk berperang. Pencitraan “Islam” oleh Barat disebarkan oleh media mainstream yang selalu berkiblat ke Barat. Salah satu media pencitraan “Islam” saat ini, dan sangat efektif dalam mempengaruhi pemikiran awam masyarakat, adalah film-film Hollywood. Hampir nihil, Islam dicitrakan secara positive dalam film-film keluaran Hollywood. Hollywood tidak jarang berafiliasi dengan Pentagon untuk membuat film-film perang yang keren yang menyudutkan Islam dan Dunia Muslim untuk membentuk perspektif yang harus negative atas Islam.

Sebagai contoh, film Hollywood yang belum terlalu lama, berjudul “Superbad,” yang didalamnya menyebutkan bahwa nama seorang karakter “McLovin” adalah nama yang “sangat aneh, seaneh nama ‘Muhammad’” (saya curiga nama karakter “McLovin” berkonotasi “making love” atau berhubungan sex). Atau film terkenal garapan Steven Spielberg berjudul “Munich” yang mengangkat wacana tentang Palestina hanya dalam dua setengah menit, dari durasi film 167 menit, seperti diberitakan oleh jurnalis Australia, John Pilger. Walaupun isu yang diangkat dalam film ini sangat kental dengan isu konflik Israel-Palestina, film “Munich” ini lebih mudah untuk di interpretasikan sebagai film yang dibiayai korporasi Barat untuk mendukung kebijakan Israel. Anda boleh kaget karena ada ratusan judul film Hollywood lain yang mencirtrakan Islam secara negative, dan itu bukan tidak disengaja.

Islam menjadi sangat mengerikan bagi Barat dan sebagian orang Timur sendiri. Bagi mereka yang berpandangan sekuler di Barat, menurut sejarawan dan analis politik, Tariq Ali, ada dua ancaman terbesar Barat yang bisa meruntuhkan eksistensi inti dari peradaban manusia: “Islam dan Konfusianisme”, yang bila diterjemahkan dalam bahasa mereka menjadi “minyak dan ekspor barang Cina” (Ali, “The Clash of Fundamentalisms,” hal. 273). Terlepas dari pandangan sekuler, politis dan realistis, ada motivasi religius yang mempekaya serta memperrumit konflik Barat vs Islam saat ini. Motivasi ini berasal dari prasangka-prasangka kuno yang berasal dari semangat religius tiga agama besar, Yahudi, Kristen, dan Islam. Motivasi religius yang lebih hebat dan seakan-akan natural ini, jika Tuhan mengijinkan, semoga bisa dibahas dalam tulisan selanjutnya.

Muhamad Hidayat

(seri tulisan dinas)

Sumber utama:

  1. Edward Said, “Covering Islam: Bias Liputan Barat Atas Dunia Islam.” Yogya: Ikon. 2002.

  2. Karen Armstrong, “Perang Suci: Dari Perang Salip Hingga Perang Teluk.” Jakarta: Serambi. 2007. Bagian 1, hal. 27-240.

  3. John Pilger, “Hollywood’s New Censors.” Dalam jurnal bulanan COLDTYPE edisi Maret 2009, dapat di download di www.coldtype.net

Sumber lanjutan:

  1. Tariq Ali, “The Clash of Fundamentalisms.” New York: Verso. 2002.

  2. Film dokumenter “Operation Hollywood”, dapat di lihat (atau di curi) di Google Video atau You Tube.

  3. Edward Said, “Orientalism.” New York: Vintage Books. 1979.

  4. Untuk anda yang beruntung bisa bahasa inggris silakan baca artikel dan analisis independen oleh analis terkemuka di www.informationclearinghouse.info dan lihat daftar film dokumenternya, atau subscribe / berlangganan untuk mendapatkan up-date berita alternative setiap hari, gratis. Bagi yang kebacut bisa bahasa Indonesia, silakan baca saya (www.enunggling.multiply.com atau www.altermedianet.blogspot.com ). Sama saja, hehe..

Wednesday, March 18, 2009

3 Tahun Jadi Robot Gathotkoco, Lelah (reflection part 3, final)

Mengutip nada deringnya Adipati Genk:

“Telung taun aku ngenteni, ora ngerti jebule mung diapusi..

Kelingan dek jaman semono, ora ngiro jebule mung sandiworo..”

Kalau diartikan, sedikit banyak menjadi begini:

Anda tahu apa itu “gathot”? Anda tahu apa itu “koco”? Gathot itu makanan tradisional Jawa (Wonosari) yang terbuat dari ketela jamuran yang di dang. Pliket, warnanya hitam seperti gigi keropos, tapi rasanya manis-manis manja. Sedangkan koco, dalam bahasa Jawa berarti “beling,” yang kalau dijatuhkan seharusnya berbunyi mak “krompyang.” Ada koco sepion, koco mobil, koco moto, koco turu, koco mabuk dan selebihnya.

Lalu anda tahu apa itu “Gathotkoco”? Lha iya…Gathot yang terbuat dari koco. Walau manis, hitam, njembul, tapi tidak enak dimakan, walau tetep boleh nekat dimakan. Yang makan gathotkoco biasanya adalah mas-mas dan mbak-mbak yang kesurupan. Jadi begini..setelah saya pikir-pikir, saya ini ternyata seorang “Robot Gathotkoco.” Dan telah menjadi seperti ini selama tiga tahun, persis karena seperti di ringtone tadi. Dulu bukan robot, tapi “Gatutkaca,” yang dengan gagahnya terbang kesana kemari, dengan dada yang bercahaya. Tapi karena terbangnya terlalu tinggi, si Gatutkaca tersambar petir, nyungsep ke tanah, dan berubah menjadi Robot Gathotkoco.

Si robot ini masih hidup, ngesot, dan terus mencoba terbang, tapi belum bisa. Terlalu takut kesetrum lagi. Apalagi sekarang jadi robot yang ototnya kawat, tulangnya besi. Semuanya konduktor listrik. Petir itu telah mengubah organ biologis saya yang dulu tersusun rapi dan dinamis serta empuk dan fleksibel, menjadi keras dan kasar. Disentuh pun tidak penyok sebentar. Walau semakin kurus, tapi badan saya terbuat dari benda keras semua. Dari kepala sampai kaki. Ketombe pun ikut mengeras. Sedangkan dada saya tidak bersinar lagi.

Dan setelah saya pikir-pikir selama tiga tahun ini, ternyata semua orang adalah Gatutkaca. Gagah, perkasa, hebat, bisa terbang dan dadanya bercahaya. Tapi sekarang saya jadi robot gathotkoco, bukan gatutkaca, jadi saya bukan orang. Dan saya semakin heran ketika berkaca, kenapa bisa-bisanya saya beralih peran. Yah…minimal pernah jadi gatutkaca seperti semua orang, walau akhirnya tersambar petir. Anda tahu petir kan? Petir terjadi karena ada awan positif nubruk awan negatif. Nah… korbannya saya. Saya gagal menjaga awan negatif jauh dari awan positif, walaupun saya dulu sering terbang. Mungkin saya dulu terlalu sombong, terlalu menyepelekan kekuatan awan positif yang ternyata jumlahnya banyak sekali.

Oh..Tuhan.. kenapa jadi begini. Namun saya masih dipaksa bersyukur. Walau saya bukan gatutkaca lagi, setidaknya saya dapat kompensasi: bantuan langsung tunai dari Tuhan. Walau dalam tiga tahun ini saya tidak bisa terbang seperti gatutkaca, saya tetep terbang tapi naik pesawat (Gathotkoco naik Boeing 747 kelas ekonomi). Ke bagian bumi yang lain, jauh dari awan negatip dan positip. Dan mungkin, bila saya masih jadi gatutkaca, saya mungkin tidak akan bisa terbang naik pesawat karena saya terlalu sombong karena bisa terbang sendiri. Tapi sayangnya mengapa saya harus kehilangan kemanusiaan saya…? Mengapa..? (Halah omong opo iki..) Mengapa harga menjadi manusia sangat mahal?

Nah…akhir dari ringtone tadi berbunyi:

“Lilo..lilo legowo atiku, kabeh tak tompo…mergo wis dadi lelaku…

Nanging roso gelo ning atiku, mugo-mugo ojo nganti dadi tatu…”

(rintone kok dowo banget to…sing telpon selak kepuyuh)

Kalau diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari kira-kira menjadi begini:

Saya harus ikhlas. Teorinya, yang bisa saya lakukan sekarang adalah “giving and loving.” Walaupun sayap, tangan dan kaki saya masih di gip, saya harus belajar terbang lagi. Namun itu sangat sulit sekali. Yang saya cari sekarang adalah “obat.” Obat supaya kuat, keras dan tahan lama. Namun, kadang-kadang saya juga berpikir untuk mencari racun yang rasanya manis, kalau diminum langsung mati masuk surga. Tapi kadang-kadang saya juga malah ketawa ketiwi sendiri. Menertawakan ini semua. Tapi yang jelas, harus belajar membaca dan menulis lagi, sambil mencari Kabegjan.

Yo wis ngono wae..tak fisbukan meneh sambil minum teh gopek. Ternyata saya masih muda dan itu tidak jelek.

M Vesovshchikov 16 Mar 09 11:19 pm

Appendiks:

Solo el amor (Silvio Rodriguez)

sólo el amor alumbra lo que perdura

sólo el amor convierte en milagro el barro

sólo el amor engendra la maravilla

sólo el amor consigue encender lo muerto…….

Yang artinya:

Alera bande bande, sing ngerti mung aku dhewe.

Robot pecinta kucing

Dari kecil saya adalah pencinta kucing. Mungkin sejak lahir. Saya diasuh oleh simbah putri saya yang kebetulan juga memiliki beberapa kucing. Mungkin saya jatuh cinta dari perlakuan mbah putri saya terhadap kucing-kucingnya. Setiap mau tidur, mbah saya selalu menyisihkan makanan untuk si kucing. Bahasa Jawanya, cawisan.

Saya ingat sejak saya di TK, saya sudah punya beberapa kucing kepunyaan saya sendiri. Saya ingat, kucing saya saat itu berwarna putih, dan gemuk sekali. Tapi saya lupa jenis kelaminnya apa. Sampai sekarangpun, saya juga masih memelihara kucing. Sekarang saya punya 5. Yang 4 berwarna abu-abu, yang satu putih, dan selalu menjadi masalah di keluarga saya sejak dulu. Kebetulan, “bapak” saya pembenci kucing yang patologis. Dia tak segan-segan menginjak atau memukul kucing saya, atau melemparnya dengan kaki. Dan ini telah berlangsung selama hidup saya. Hehe… (Untung saya sekarang sudah besar, dan hampir mau independen, jadi jika “bapak” saya macam-macam sama kucing saya, saya juga tak segan-segan menginjaknya…dan biasanya perang misuh-misuh terjadi. Daftar hewan buas muncul semua. “harimau”, “singa”, “beruang” dll. Dan jika saya tahu bapak saya menyiksa kucing saya, saya gentian menyiksa ayam bapak saya. Pokoke gayeng). Ada salah satu kucing saya yang dilempar dingklik oleh bapak saya, sehingga kucing saya menjadi agak buta. Rabun dekat. Kalau dari jauh, makanan kelihatan, tapi kalau sudah dekat, nabrak-nabrak. Kasihan sekali.

Dulu ada cerita, dan selalu berulang-ulang. Waktu saya SD, saya punya kucing kesayangan (mungkin satu-satunya sahabat saya yang belum pernah menghianati saya). Tidurpun sama saya. Warnanya abu-abu, betina, gemuk sekali, jadi kelihatan pemalas seperti saya (walau saya kurus). Saya tak segan-segan membelanjakan uang saku saya untuk beli ikan teri. Saya saat itu sedang sakit keras, kalau tidak salah tipes, sehingga saya tidak sempat mengurus kucing saya karena terbaring di kamar terus, selama berhari-hari. Eh.. tau-taunya, kucing kesayangan saya dibuang oleh bapak saya! Setan bener. Tak cari-cari kok tidak ada, setelah saya usut, ternyata sudah dibuang jauh, di kecamatan sebelah. Wah…kontan, saat itu saya syok, tapi saya sembunyikan. Kalau dibuat film, mungkin judulnya “Dendam Membara” atau “Hasrat Membara?” Sayang saat itu saya belum bisa naik sepeda motor, kalau sudah bisa saya pasti akan mencarinya. Dan saya sampai saat ini masih belum ikhlas kehilangan kucing saya tersebut, saya masih ingat wajahnya, suaranya, dan kadang-kadang masih bermimpi, setelah 15 tahun. Sampai detik ini, walaupun saya sudah punya kucing-kucing lain yang beranak pinang sampai beberapa generasi (walaupun belum sempat evolusi).

Dan cerita ini selalu berulang-ulang. Sudah tidak terhitung, berapa kucing saya yang dibuang bapak saya. Eh ternyata ibu saya juga ikut-ikutan mbuang kucing saya. Ada beberapa yang berhasil pulang dalam keadaan kurus kering, tapi ada yang tak tentu rimbanya. Kasusnya macem-macem. Ada yang karena buang hajat di kamar tamu, ada yang karena kalau malam selalu naik atap dan tidak bisa turun jadi ngeang ngeong terus, ada yang karena tidak nafsu sama tikus, ada yang selalu tidur di lemari pakaian, tapi belum pernah ada yang karena mencuri makanan. Kucing saya cukup beradap, jarang mencuri makanan. Tapi kejadian di paragraph sebelumnya adalah yang paling “mengesankan.” Kayaknya saya berhutang pada kucing yang terbuang itu. Saya jadi “pintar” seperti sekarang karena dia juga. Dan sampai sekarang saya masih rindu padanya…sahabat sejati saya.

Belajar Membaca dan Menulis Lagi (reflection part 2)

Huh… sudah beberapa waktu aku tidak membaca dan menulis. Disibukkan dengan pikiran manusia yang macem-macem warnanya, menarik dan menguras tenaga dan pikiran. Sehingga terbuai dan mabuk seakan-akan aku ini manusia.

Yo wis… Jarene Mbah Kiai, ayat Quran yang pertama kali turun adalah “Iqro’” yang artinya “bacalah.” Saya tidak tahu maksudnya suruh baca apa--Al-Quran, majalah, koran, primbon, atau manusia. Sejak SD saya sudah diajar habis-habisan membaca dan menulis. Berarti sudah sekitar 18 tahun belajar membaca dan menulis. Tapi saya masih heran, apakah saya sudah bisa mbaca dan nulis apa belum. Dan tujuannya mbaca dan nulis itu sendiri apa saya juga masih bingung. Standar orang sudah bisa mbaca dan nulis juga tidak jelas. Kayaknya pak guru bu guru yang terhormat belum pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Sewaktu kecil, saya mantep, “mungkin saat saya besar nanti, saya bisa menemukan jawabannya di buku-buku yang ditulis professor-profesor terkenal.” Atau setidaknya, bisa tanya pada mereka. Eh setelah besar anunya, jawabannya juga belum ketemu juga. Profesor-profesor tersebut juga jarang bertanya soal itu, padahal foto-foto mereka memenuhi tembok kamar saya.

Yo wis lah… Rapopo…Ra usah dipikir. Nek bejo rak yo ketemu dhewe.

HAH!!!! Itu dia jawabannya. Nek bejo! Alias “Kalau beruntung!!!” Ya saya tahu sekarang jawabannya. KALAU BERUNTUNG SAYA PASTI TAHU. Jadi gak usah susah-susah ngutak atik ini itu, teori ini itu, professor ini itu, universitas ini itu, buku ini itu, dan selebihnya.

Ya saya tahu sekarang, kuncinya adalah “kalau saya beruntung.” Ternyata mudah sekali menjadi manusia. Cukup “nek bejo” saja, mereka sudah tahu segalanya, tahu kuncinya. Sialan, kenapa saya sadarnya baru sekarang, setelah usia sudah tidak muda lagi. Sekarang sudah menginjak-injak 24 tahun. Ini benar ini. Saya menemukan jawabannya beberapa detik lalu saat menulis ini. Suerrrr! Dan saya bahagianya minta ampun. Akhirnya pencarian terbesar saya ketemu jawabannya. “Kalau beruntung” kamu akan paham segalanya. Ya itulah jawaban segala pertanyaan saya yang tidak digubris oleh para pemikir terkemuka. “Kalau beruntung” hehehe…… lucu. Ternyata mudah sekali. Instant.

[Diam….]

Tapi kok saya sedih lagi ya… Oh iya.. setelah dipikir, berarti sudah 24 tahun ini saya bukan orang yang bejo alias beruntung. Waduh kok jadi gini. Berarti saya termasuk yang tidak beruntung, karena saya masih tidak paham mengapa harus mbaca dan nulis. Tapi saya tahu jawabannya, “Kalau beruntung, kamu akan tahu jawabannya mengapa.” Sialan!!! Berarti saya tidak bejo. Tidak beruntung hidup wong saya tidak tahu mengapa saya membaca dan menulis. Untuk apa saya hidup saya juga bingung. BAJINGAN!!!!!!!

Setelah 24 tahun mencari jawabannya, dan akhirnya ketemu beberapa menit yang lalu, saya jadi sadar, ternyata saya tidak beruntung untuk tahu!! Saya tidak beruntung menjadi manusia. Tidak bejo saja kuncinya. Wah ini tidak adil! Tapi mau nuntut ke siapa? Ke Tuhan? Dia juga diam saja. Lha wong wis ora bejo piye meneh… Beruntungnya para manusia yang beruntung. Tapi semua manusia beruntung, hanya yang bukan manusia seperti saya yang tidak juga bisa paham.

Apakah saya bisa dimanusiakan? Kenapa Tuhan tidak menjadikan saya sebagai seorang manusia? Kenapa saya tidak se beruntung itu? Ada yang tahu hoi para manusia!! Saya butuh bantuan anda anda para manusia yang terhormat. Apakah saya bisa diselamatkan? Disaat usia saya yang semakin tidak bisa jadi investasi lagi. Saya takut sekali. Takut mati. Any helps are encouraged. Saya tidak ingin mati penasaran. Saya ingin beruntung seperti manusia.

Saya mungkin adalah robot yang terlalu pintar dan lancang. Mengapa saya berani-beraninya menentang ketidak beruntungan saya sebagai robot untuk menjadi manusia? Menentang kodrat saya sebagai robot. Tapi malaikatpun kalau ditanya pasti juga ingin jadi manusia, jadi saya pikir cukup wajar kalau saya yang sebuah robot tidak terima dan tetep cemburu pada manusia. Apa enaknya jadi malaikat? Gak menikmati dunia dan surga beserta camilannya. Kalau malaikat saja pingin jadi manusia, saya yang sebuah robot, juga pingin.

Sementara, yang bisa mendinginkan saya cuma harmoninya Silvio Rodriguez, Tapi tak tahu lagi sampai kapan saya bisa bertahan… Berapa tahun lagi? Atau berapa minggu lagi? Atau berapa detik lagi?

Noor, 12 Maret 2009, 8:17pm.

Appendiks:

Lo De Mas (Silvio Rodriguez)

Lo de menos son todos los secretos
que intuyo, huelo, toco y siempre te respeto.
Lo de menos es que jamás me sobres,
que tu amor me enriquezca haciéndome más pobre.
Lo de menos es que tus sentimientos
no marchen en horario con mi renacimiento.
Lo de menos es larga
soledad,
lo de menos es cuánto corazón.

Lo que menos importa es mi razón,
lo de menos incluso es tu jamás,
mientras cante mi amor
intentando atrapar
las palabras que digan lo de más……..

Yang artinya:

The most important (Silvio Rodriguez)


The least important are all the secrets

That I sense, smell, touch and always respect you.

The least important is to never have too much of you,

For your love to make me richer by impoverishing me.

The least important is for your feelings

To not march along with my rebirth.

The least important is long solitude,

The least important is all that heart.

What least matters is my reason,

The least important is even your “never”,

As long as my love sings

Trying to catch

The words to say the most important…….

Jadi sekarang saya sedang “trying to catch the words to say the most important.” WISH ME LUCK!!

Then, What I Have Lived For?

Then, What I Have Lived For?

Some reflection of Bertrand Russell’s “What I Have Lived For”

Here is Bertrand Russell’s reflection of his life, which became the prologue of his Autobiography of Bertrand Russell. Bertrand Russell is one of my few favorites. His passion to live his life has somehow encouraged me, given me a sip of hope, but, on the other hand, made me empty, worthless and small in this huge prison of happiness. Where happiness most of the time doesn’t go hand in hand with meaningfulness, where suffering and loneliness sometimes kick me out of this humanity, I am in the verge of my consciousness. And one question always haunts me: is this a life worth living? Poison always works, but my brain also works. Music most of the times also works, but books also work. Then, what I have lived for?

Here’s Bertrand Russell’s:

WHAT I HAVE LIVED FOR.

Three passions, simple but overwhelmingly strong, have governed my life: the longing for love, the search for knowledge, and unbearable pity for the suffering of mankind. These passions, like great winds, have blown me hither and thither, in a wayward course, over a deep ocean of anguish, reaching to the very verge of despair.

I have sought love, first, because it brings ecstasy -- ecstasy so great that I would often have sacrificed all the rest of life for a few hours of this joy. I have sought it, next, because it relieves loneliness -- that terrible loneliness in which one shivering consciousness looks over the rim of the world into the cold unfathomable lifeless abyss. I have sought it, finally, because in the union of love I have seen, in a mystic miniature, the prefiguring vision of the heaven that saints and poets have imagined. This is what I sought, and though it might seem too good for human life, this is what -- at last -- I have found.

With equal passion I have sought knowledge. I have wished to understand the hearts of men. I have wished to know why the stars shine. And I have tried to apprehend the Pythagorean power by which number holds sway above the flux. A little of this, but not much, I have achieved.

Love and knowledge, so far as they were possible, led upward toward the heavens. But always pity brought me back to earth. Echoes of cries of pain reverberate in my heart. Children in famine, victims tortured by oppressors, helpless old people a hated burden to their sons, and the whole world of loneliness, poverty, and pain make a mockery of what human life should be. I long to alleviate the evil, but I cannot, and I too suffer. This has been my life. I have found it worth living, and would gladly live it again if the chance were offered me.

Here’s mine:

Then, What I Have Lived For?

Yes, I think his is a great reflection. I’m closing my eyes. Just to let some insights come in my mind. And I’m thinking, there is a hole. Or a spot. A missing part in my incomplete life. I have achieved the other two, to a small degree. I suffer and sense suffering. That’s why I read and write. Puzzled and perplexed, I always question where the other one is. Far away from here, I think. From where I stand for.

I’m like a lifeless smart robot, according to Russell’s definition. Of course people like smart robots. They learn a good deal from the smart robots. They read and comprehend what the robots say. Sometimes the robots are also helpful. The robots perform some complicated tasks for the good of them. What the robots do probably fulfills their missing parts. But, overall, the robots are robots whose needs are just electricity and a complex formula that make them smart enough. People don’t have to understand the formula. That’s it. You don’t feed robots with earthly and heavenly foods. They don’t need humanity since they are robots. You can just ignore them after they have made you rather smarter. Or, sometimes, you can be really kind by willing to recharge the robots’ battery so that they stay useful. The robots are still robots. What a fortune to be humans. They are not robots. And they are alive. They smile, laugh and cry. But robots can also smile, laugh and cry, but for nothing! Yes for nothing. It just makes no difference whether a robot smiles, laughs or cries.

And of course Russell is a really smart human being, not at all a robot, so it’s meaningful and important to know that he is smiling, laughing and crying. But probably he was once a robot too. I don’t know whether a really smart and full human being like him had to be a robot. He didn’t have to. But, what puzzles me most is that people don’t have to be really smart like Russell to be categorized as human beings and excluded them from being called “robots.” Yes, people just need fortune, I think. After all, people are humans not robots. And I’m sure all of you know what the difference between humans and robots. And of course, robots don’t reproduce. A robot plus another robot mean nothing, my friend said. Only people reproduce, not robots. Robots also don’t need methamphetamine.

But sometimes, people are also terrified with the smart robots. They think that the robots are simply too smart to comprehend and too dangerous to touch. Too lifeless, precisely, so that people just don’t get the idea that such robots exist. So that it’s so confusing to see such robots. It’s just out of touch. It’s just extraordinarily odd. It should be non existence in decent human beings’ consciousness. These too-smart robots just don’t need anything since people don’t need them. It’s simply too odd to know such robots. Yes, people are running away, for a good reason. Just leave the robots and just shun them. You don’t have to be so kind to recharge their batteries. Just leave them, for God sake. After all, it makes no difference for you whether they exist or not, whether they are useful for you or not. It makes no difference at all. After all you are human beings, not robots. You should do what a decent human being does. That’s it. Robots don’t grasp the mystic of humanity. They don’t need to, in fact, since they are robots. Just let the robots be drowned in their Pythagorean mathematics. And just let the robots rust with their stupid, useless and naive efforts to sense people’s sufferings.

Hopefully this is confusing; so that I can make sure that I am, in fact, a robot. And after all, it makes no difference at all whether I exist or not.

Mohamed, March 06, 2009

Monday, February 9, 2009

Saya Jadi Ragu Kalau Konflik Israel Palestina Cuma Masalah Politik


Hidayat 10 Feb 09

Sekian lama saya menganggap kalau konflik Israel-Palestina cuma masalah politik saja. Namun setelah melihat agresi Israel ke Gaza kemarin, saya dikonfrontasikan dengan argument yang selama ini saya takuti: Israel-Palestina adalah konflik agama. Berikut adalah faktanya.

Israel adalah negara agama “Yahudi,” seperti Arab Saudi dan Pakistan sebagai negara “Islam.” Dalam serangan ke Gaza kemarin, polling menyebutkna bahwa 80% warga Israel mendukung agresi militer tersebut. Yang menghebohkan saat ini adalah fenomena kemunculan partai-partai kanan yang dalam berbagai poling mendapatkan mayoritas suara di Israel. Selain itu, kemungkinan besar, Benjamin Netanyahu akan memenangkan pemilu hari ini (10 Feb.). Ia berasal dari Partai Likud, partai sangat kanan di Israel (sebenarnya kanan atau kiri sama saja di Israel). Likud adalah partai yang memiliki hubungan paling kental dengan lobi Israel di Amerika (AIPAC dan CPMAJO—Conference of Presidents of Major American Jewish Organizations). Sementara itu, partai ekstrim kanan garis keras (ortodox) Yisrael Beiteinu, pimpinan Avigdor Lieberman juga semakin kuat dukungannya, dan diperkirakan akan menjadi salah satu dari 4 partai penguasa Knesset (parlemen Israel), mengalahklan Partai Buruh nya Ehud Barak. Lieberman sekarang sedang berkampanye untuk mengusir warga Israel keturunan Arab (yang berjumlah satu juta atau sekitar seperlima dari jumlah penduduk Israel), untuk memurnikan Israel. Rencana itu didukung oleh Netanyahu. Lieberman terkenal sangat fasis.

Sementara itu, sentiment jihad terhadap warga Gaza sangat terasa, terutama di kalangan militer. Ini disebabkan karena mayoritas tentara Israel berasal dari kalangan Yahudi Ortodox di “pemukiman” (liar) di Tepi Barat, Palestina. Tambahan lagi, militer Israel sekarang dibajak oleh rabbi-rabbi ekstrim yang berjanji untuk melakukan perang suci melawan bangsa Palestina. Terdapat proses “teologisasi” di dalam militer Israel, yang cukup dikhawatirkan oleh banyak kalangan termasuk petinggi Israel sendiri.

Dalam serangan kemarin, rabbi dari kemiliteran Israel menyebarkan pamphlet kepada Tentara Pendudukan Israel (Israeli Occupation Forces) yang mengajak untuk tidak kenal ampun terhadap penduduk Gaza. Pamflet tersebut ditulis oleh rabbi Shlomo Aviner, ketua seminari (liar) di pemukiman Muslim Tepi Barat, Palestina. Pamflet tersebut telah disetujui oleh pimpinan rabbi militer, Brigjen Avichai Ronsky. Isi pamphlet tersebut adalah diantaranya: “Jika kamu mengasihani para musuh yang kejam, kamu menjadi kejam terhadap pasukan yang jujur dan suci ini… ini adalah perang melawan para pembunuh.” Ia juga menekankan pada tentara IOF agar “tidak menyerahkan satu millimeter pun wilayah Israel Raya.” Israel Raya (Eretz Israel), menurut kalangan ortodox Yahudi (yang mengacu pada kitab suci mereka) mencakup seluruh wilayah Palestina plus Yordania.

Boklet ini dimunculkan untuk meningkatkan “combat value” (nilai pertempuran?), setelah Israel kalah dalam perang melawan Hezbollah, 2006 silam. Brigjen Ronsky (ketua rabbi militer) sendiri adalah seorang ekstrim kanan dan juga pemukim (liar) di Tepi Barat. Ia juga sering mengunjungi teroris Yahudi ekstrim di penjara Israel dan menaungi para pemukim ekstrimis di Tepi Barat. (catatan: pemukiman liar di Tepi Barat adalah politik mantan PM Ariel Sharon, yang memasukkan para warga yahudi ekstrim untuk tinggal di wilayah Tepi Barat Palestina, membangun pemukiman2 liar, untuk mencaplok Jerusalem dan seluruh wilayah Tepi Barat. Semua pemukim adalah kalangan ortodox Yahudi yang kebanyakan berasal dari Amerika).

Para rabbi dalam milter IOF bertujuan untuk mencuci otak para tentara dengan “nilai-nilai religious” agar tidak kenal ampun pada “musuh yang kejam”, kata Ha’aretz. Diantara tentara IOF, 40 % adalah jebolan seminari (illegal) atau yeshiva, di pemukiman illegal di Tepi Barat. Sementara itu, Ehud Barak baru saja memberikan persetujuan untuk membangun 4 yeshiva baru di pemukiman Yahudi ortodox di Jerusalem, Tepi Barat, Palestina.

Doktrin para ekstrimis Yahudi adalah memusnahkan para warga “sub-human” Palestina dan mencaplok seluruh wilayah mereka. Imajinasi para ekstrimis menyebutkan bahwa mereka adalah “manusia pilihan” Tuhan atau “chosen people,” yang superior atas ras lainya. Di Israel sendiri, warga Arab Kristen adalah warga kelas dua, sedangkan Arab Muslim adalah warga kelas tiga (yang keduanya terancam di usir atau dibantai oleh Avigdor Lieberman—Netanyahu menyetujui usulan Lieberman ini, kata Ha’aretz). Para rabbi ekstrimis mengacu pada kitab Talmud yang, katanya, menjanjikan bangsa Yahudi untuk tinggal di Zion (bukit di Jerusalem). Talmud, katanya, juga berkata kalau para “gentile” (atau non-Yahudi, atau goyim dalam bahasa Ibrani, atau kafir dalam istilah Islam) seperti binatang (kera atau babi) yang sama sekali tidak berharga. Mereka mempunyai hak untuk membunuh para “gentile” ini.

Kalau ideologi Zionisme itu sendiri sudah sedemikian rupa fasisnya, saya jadi ragu kalau ini cuma isu politik regional. Belum lagi ketundukan Amerika tanpa syarat pada Israel (Israel adalah negara bagian ke 51), semakin membikin penasaran. Dalam Israel Lobby, Prof. Mearsheimer dan Walt juga memaparkan bahwa lobi Zionis di Konggres terutama dimotori oleh kalangan Kristen Evangelical, yang kemudian disebut sebagai kalangan Christian Zionist, yang mengacu pada kesamaan imajinasi mereka tentang penafsiran kitab suci (kalangan ini pernah mendapat tantangan dari kalangan Kristen Presbyterian Amerika, namun seperti sudah diprediksi, mereka akhirnya lenyap disensor oleh media). Tentu, tidak semua Yahudi adalah Zionist. Kalangan Yahudi Anti-Zionist (Anti-Zionist Jews) selalu berkampanye kalau warga Yahudi Israel telah keblinger dengan Zionisme—yang berideologi fasis eksklusif dan tidak toleran. Kalangan ini mengacu pada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa tidak ada pertentangan yang serius antara warga Yahudi dengan Islam. Bahkan selama ribuan tahun, mereka hidup berdampingan dengan damai di Palestina, sampai tahun 1948, dimana minoritas Yahudi Zionis mendirikan negara “Yahudi” Israel. Saat agresi pasukan Salib pun, warga Muslim dan Yahudi Palestina (bahkan warga Kristen Palestina) berjuang bersama dan menjadi korban pembantaian.

Dan yang lebih mengherankan lagi, pemerintahan Obama sekarang adalah pemerintahan yang “paling Zionist” sepanjang sejarah Amerika, menilik pada banyaknya pejabat Zionist dan Kristen-Zionist dan pro-Israel Zionist yang menduduki posisi penting dan berpengaruh di pemerintahan Obama. Bahkan 20 Januari lalu, The Jewish Telegraph Agency, agen berita utama kalangan Yahudi Zionist Amerika, dengan bangga membeberkan daftar pejabat tinggi Obama yang “pro-Zionist” yang bertugas di Timur Tengah. Diantaranya adalah Richard Hoolbroke, Dennis Ross, dan George Mitchell (saya sudah menuliskan tentang ini dalam “Obama dan penjahat-penjahat di pemerintahanya” di blog saya). George Mitchell adalah utusan khusus Obama untuk urusan Timur Tengah yang dipercaya untuk mencari “solusi” konflik Israel-Palestina. Sedangkan Dennis Ross adalah utusan khusus mengenai masalah Iran. Belum lagi para pejabat tinggi seperti wapres Joe Biden, chief of staff Rahm Emmanuel (pejabat tinggi pertama yang berkewarganegaraan ganda, Israel dan Amerika), dan Hillary Clinton (yang berjanji “to obliterate”, akan memusnahkan 70 juta warga Iran jika Iran menyerang Israel), adalah para tokoh yang terkenal pro-Zionist dan dekat dengan AIPAC, lobi Israel terkuat di Amerika.

Sementara itu, saat serangan ke Gaza kemarin, Menlunya Bush, Condoleeza Rice mengusulkan paket resolusi PBB tentang gencatan senjata. Namun PM Olmert langsung menelpon Bush, saat Bush sedang mengisi kuliah, agar Bush menolak resolusi PBB yang digagas oleh Rice sendiri. Akhirnya Amerika abstain dalam resolusi tersebut. Ini sangat mengagetkan, karena terlihat betapa Amerika tidak mampu menghadapi pengaruh Israel. Bahkan Bush lebih mengedepankan kepentingan Israel daripada kepentingan internasional yang dibawa oleh menteri luar negerinya sendiri.

Selain itu Konggres juga menelurkan resolusi yang isinya mendukung serangan Israel. Ini tidak mengagetkan, melihat peran lobi Israel dalam Konggres AS teramat kuat. Hanya anggota Konggres Dennis Kucinich yang menolak resolusi tersebut. Dalam Israel Lobby disebutkan bahwa Konggres sering berdebat panas dalam isu mengenai kesehatan, pajak dll, namun selalu kompak dalam masalah Israel.

Melihat fenomena ini, saya menjadi sangsi, kalau konflik Israel-Palestina adalah konflik politik semata. Melihat rekor diatas, apakah ketakutan saya mendapat pembenaran, sebagaimana telah disadari oleh banyak analis, bahwa konflik ini adalah konflik agama?

Sumber-sumber utama:

“Did the Israeli Army Wage a Jewish Jihad in Gaza?” Jonathan Cook, DissidentVoice.org, February 4th, 2009

“Collusion, Complicity and Sheer Insanity”, Rannie Amiri, Counterpunch.org, Feb. 2, 2009

“Black Flag”, Uri Avneri, InformationClearingHouse.info, Feb 02, 2009

“The Nightmare of Netanyahu Returns”, TheIndependent.co.uk, Feb. 6, 2009

“From Gaza to Tehran”, James Petras, InformationClearingHouse.info, Jan. 31, 2009.

“Can Mitchell turn Jerusalem into Belfast?”, Ali Abuminah, electronicintifada.net, Feb. 2, 2009.

“Elections 2009 / Netanyahu: Lieberman campaign against Israeli Arabs is 'legitimate'”, Haaretz.com Feb. 6, 2009

Israel Lobby”, John J. Measheimer and Stephen M. Walt

“Haaretz Poll: Kadima, Likud are neck-and-neck with 4 days to go”, Haaretz.com, Feb. 7, 2009

Appendiks 1. 51 Organisasi Yahudi Amerika yang menolak proposal gencatan senjata dari Menlu Rice:

1. Ameinu

2. American Friends of Likud

3. American Gathering/Federation of Jewish Holocaust Survivors

4. American-Israel Friendship League

5. American Israel Public Affairs Committee (AIPAC)

6. American Jewish Committee

7. American Jewish Congress

8. American Jewish Joint Distribution Committee

9. American Sephardi Federation

10. American Zionist Movement

11. Americans for Peace Now

12. AMIT

13. Anti-Defamation League

14. Association of Reform Zionist of America

15. B’nai B’rith International

16. Bnai Zion

17. Central Committee of American Rabbis

18. Committee for Accuracy in Middle East Reporting in America

19. Development Corporation for Israel/State of Israel Bonds

20. Emunah of America

21. Friends of Israel Defense Forces

22. Hadassah, Women’s Zionist Organization of America

23. Hebrew Immigrant Aid Society

24. Hillel: The Foundation of Jewish Campus Life

25. Jewish Community Centers Association

26. Jewish Council for Public Affairs

27. Jewish Institute for National Security Affairs

28. Jewish Labor Committee

29. Jewish National Fund

30. Jewish Reconstructionist Federation

31. Jewish War Veterans of the USA

32. Jewish Women International

33. MERCAZ USA, Zionist Organization of the Conservative Movement

34. NA’AMAT USA

35. NCSJ: Advocates on behalf of Jews in Russia, Ukraine, the Baltic States and Eurasia

36. National Council of Jewish Women

37. National Council of Young Israel

38. ORT America

39. Rabbinical Assembly

40. Rabbinical Council of America

41. Religious Zionist of America

42. Union for Reform Judaism

43. Union of Orthodox Jewish Congregations of America

44. United Jewish Communities

45. United Synagogue of Conservative Judaism

46. WIZO

47. Women’s League for Conservative Judaism

48. Women of Reform Judaism

49. Workmen’s Circle

50. World Zionist Executive, US

51. Zionist Organization of America

Appendiks 2. Statistik Akibat Agresi Militer Israel ke Gaza, dari www.pcbs.gov.ps dan berbagai NGO:

  • 1,334 tewas, sepertiganya anak-anak (yang jumlahnya lebih dari militant Hamas yang terbunuh)
  • 5,450 luka-luka, sepertiganya anak-anak
  • 100,000 mengungsi, 50,000 kehilangan tempat tinggal
  • 4,100 pemukiman dan perumahan hancur, 17,000 rusak (digabung menjadi 14% dari seluruh bangunan di Gaza rusak dan hancur)
  • 29 institusi pendidikan hancur, termasuk American International School, Sekolah Internasional Amerika
  • 92 masjid hancur dan rusak
  • 1,500 toko, pabrik dan fasilitas komersia hancur. 20 destroyed ambulances
  • 35-60% tanah pertanian rusak
  • $1.9 Miliar kerugian (taksiran)

Melihat statistic ini, sangat susah membayangkan kalau ini adalah murni isu politik, apalagi mempercayai narasi Israel yang digemakan oleh media diseluruh dunia, bahwa ini adalah “perang terhadap Hamas.” Sementara BBC kemarin menolak iklan kemanusiaan untuk Gaza, sehingga BBC mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Ini menunjukkan betapa kuatnya lobi Zionist di media mainstream barat (lihat: Israel Lobby).

Friday, January 16, 2009

Canada votes alone for Israel

Dari The Star,

Canada adalah negara satu-satunya yang menolak mengecam Israel, dari 47 anggota Dewan HAM PBB.

Selengkapnya:

http://www.thestar.com/article/569872

Is Israel using illegal weapons in its offensive on Gaza?

Dari Ha'aretz,

Reporter Ha'Aretz, Amira Hass, mengemukakan bahwa Israel menggunakan senjata yang dilarang hukum Internasional saat membantai warga Gaza. Senjata itu tidak muncul selama 8 tahun terakhir, dan hanya digunakan saat membantai Gaza. Senjata tersebut termasek Bom Fosfor yang dilarang PBB karena menimbulkan panas luar biasa.

Selengkapnya:

http://www.haaretz.com/hasen/spages/1055927.html

Jewish British Lawmaker Likens Israel to Nazis

Dari ICH,

Ahli hukum Yahudi Inggris mengemukakan hubungan Zionist Israel dengan gerakan Nazi.

selengkapnya:

http://www.informationclearinghouse.info/article21781.htm

Patients Forced From Beds As Israel Attacks Hospital

Dari AFP, ICH,

Israel semakin keji, mereka membom rumah sakit Gaza sehingga pasien harus "dirawat" diluar RS.

I'm speechless.

Selengkapnya:

http://www.informationclearinghouse.info/article21778.htm

Kuwaiti MP Calls to Move Arab League to Venezuela

Dari Almanar,

Kuwait meminta kantor Liga Arab dipindah dari Kairo ke Caracas Venezuela. Ia mengatakan karena Hugo Chavez lebih Islami daripada sebagian pemimpin Arab karena ia lebih berani dengan mengusir dubes Israel dari Venezuela.

Selengkapnya:

http://www.almanar.com.lb/NewsSite/NewsDetails.aspx?id=70205&language=en

Rice: Olmert's take on my talks with Bush on Gaza UN resolution is 'fiction'

Dari Ha'aretz,

Menlu AS menyatakan bahwa PM Israel mengatakan bahwa resolusi PBB untuk menghentikan serangan ke Gaza adalah "fiksi" belaka.

Selengkapnya: http://www.haaretz.com/hasen/spages/1055460.html

Bolivia cuts ties with Israel, seeks genocide charges against Israeli officials

Dari Ha'aretz,

Bolivia memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel setelah presiden Evo Morales mengusir dubes Israel dari Bolivia. Bolivia juga menuntut PM Olmert dan Pres. Peres ke International Criminal Court dengan dakwaan melakukan genosida (pembantaian etnis) di Gaza.
Langkah ini mengikuti langkah Venezuela Chavez yang sudah lebih dulu mengusir dubes Israel dari negaranya.

Aksi ini kontras dengan negara2 Arab (Islam) yang memilih diam dan cuma mengecam kekejian Israel, tanpa ada langkah nyata. Memalukan, dunia non Muslim seperti Venezuela dan Bolivia (Katholik) malah beraksi dengan hebatnya.

Selengkapnya:

http://www.haaretz.com/hasen/spages/1055502.html

Bolivia to take Israel to The Hague

Dari Press TV,

Presiden Bolivia, Evo Morales, mengikuti jejak Hugo Chavez dengan mengusir duta besar Israel dari negaranya. Ia menyebut kekejaman Israel sudah diluar batas dan pembantaian etnis (massacre). Bolivia memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.
Sementara Morales juga akan melaporkan PM Israel, Olmert, dan presiden Israel, Shimon Peres, ke International Criminal Court (ICC) (Pengadilan Kriminal Internasional) di Hague, dengan tuduhan "genosida".

Selengkapnya:

http://www.presstv.ir/Detail.aspx?id=82554&sectionid=351020202

Wednesday, January 14, 2009

The First Mistake:Barack Obama’s Silence on Gaza

DAri ICH,

Kesalahan pertama Obama: diam tentang isu kemanusiaan Gaza. Ia tidak mau berkomentar tentang Gaza. Ini menunjukkan betapa kuantnya peran Israel lobby yang ada di pemerintahan Obama nanti. Seperti sudah banyak saya tulis di www.enunggling.multiply.com

Selengkapnya: http://www.informationclearinghouse.info/article21730.htm

Gaza is Sinking in a River of Blood: A Message from a Gazan to the World

Dari ICH,

Baca: surat dari seorang warga Gaza tentang banjur darah di Gaza.

Selengkapnya: http://www.informationclearinghouse.info/article21728.htm

VIDEO Killing Gaza

Dari ICH,

Video yang menggambarkan kekejian ISrael dalam membantai anak-anak.
Perhatian: gambar dalam video ini termasuk pemandangan mengerikan tentang mayat-mayat korban di Gaza.

Selengkapnya:

http://www.informationclearinghouse.info/article21743.htm

US Secretary of State Hillary Clinton Rules Out Talks With Hamas

Dari AFP, ICH,

Disamping pemberitaan berita dalam negeri yang menyebutkan Menlu AS nanti, Hillary Clinton, akan mengutamakan diplomasi dengan HAmas dan Iran, namun seperti pemberitaan AFP, Clinton tidak akan mau berunding dengan Hamas sama sekali.

"On Israel, you cannot negotiate with Hamas until it renounces violence, recognises Israel and agrees to abide by past agreements. That is just for me an absolute," Mrs Clinton told a Senate confirmation hearing.

"Kalau mengenai Israel, anda tidak bisa bernegoisasi dengan Hamas sampai merekan menghentikan kekerasan , mengakui Israel dan setuju dengan kesepakatan damai sebelumnya. Bagi saya ini tidak bisa diganggu gugat." Kata Clinton saat dengar pendapat di Senat.

Fakta:
kekerasan Israel, yang secara kualitas dan kuantitas lebih mengerikan, tidak disebut. Hamas telah mengakui Israel dua kali sebelum gencatan senjata berakhir, namun Israel tetap ngotot menyerang Gaza. Israel bahkan yang melanggar perjanjian gencatan senjata tanggal 4 Novemer 2008, pas pemilu AS, agar luput dari perhatian media.

Selengkapnya:

http://www.informationclearinghouse.info/article21750.htm

VIDEO "Wipe Them All Out"

Dari ICH,

"Hancurkan mereka semua" adalah seruan demonstran pro Israel di New York, 11 Jan 09.
Mereka juga meneriakkan "Bom saja ghetto itu", maksudnya bom saja Gaza.

Selengkapnya:

http://www.informationclearinghouse.info/article21746.htm

Google saja

There was an error in this gadget